Blogroll

loading...

Blogger templates

loading...

Makalah Home Schooling

 BAB I

PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlakukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Hasbullah, 2005: 4). Dalam pengertian yang sederhana dan umum, makna pendidikan sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan, baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dan kebudayaan (Djumranjsah, 2006: 22).

Pendidikan menjadi bagian penting ketika dipahami secara luas sebagai sebuah proses belajar yang berlangsung terus menerus sepanjang hayat. Proses tersebut terjadi alami baik secara langsung maupun tidak langsung melalui pengalaman hidup sehari-hari. Bagi manusia, semua itu dilakukan untuk menyiapkan diri agar menjadi utuh, sehingga dapat menunaikan tugas hidupnya dengan baik dan wajar, sehingga dapat menggunakan seluruh potensi yang dimilikinya untuk terus bertahan hidup (Ahmadi, 1997: 32).

Dalam proses belajar mengajar sering ditemukan anak dengan gaya belajar, bakat, karakteristik unik yang memerlukan pembelajaran dengan pendekatan individual. Hal ini berlaku juga untuk anak yang mengalami hambatan dan masalah khusus dalam belajar (Suryadi, 2006: 17). Berkenaan dengan hal tersebut pemerintah telah menawarkan alternatif solusi berupa pembelajaran individu yang dapat di lakukan di rumah (Home schooling) sesuai dengan Undang- Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003, pasal 54 ayat 1). Sebab pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, dan keluarga (Arifin, 2003: 4).


Data yang terhimpun oleh Direktoral pendidikan kesetaraan Departemen Pendidikan Nasional menegaskan bahwa ada sekitar 600 Home schooling di Indonesia. Sebanyak 83,3% atau sekitar 500 orang mengikuti Home schooling majemuk dan komunitas, sedangkan sebanyak 16,7% atau sekitar 100 orang mengikuti Home schooling tunggal. Angka yang cukup untuk masyarakat dalam merespon model pendidikan baru di Indonesia dan kemungkinan akan mengalami kenaikan atau bahkan kemunduran (Mulyadi, 2006: 34).

Home schooling diterapkan dalam beberapa bentuk yaitu Home schooling tunggal, Home schooling majemuk, dan Home schooling komunitas. Penerapan Home schooling ini tergantung dari kebutuhan setiap homeschooler dan disesuaikan dengan kemampuan orang tua dan minat anak. Dari fleksibilitas penerapan Home schooling tersebut maka orang tua mendapatkan banyak kemudahan dalam menyelenggarakan proses pendidikan bagi putra putrinya (Kembara, 2007: 30).

Pendidikan Home schooling membantu mengembangkan potensi anak secara optimal baik dalam pengetahuan, sikap, dan kepribadian dengan menekankan pada penguasaan pengembangan sikap mandiri yang kelak dapat berguna bagi segala aspek di hidupnya (Mulyadi, 2006: 20).

Banyaknya orangtua yang tidak puas dengan hasil sekolah formal mendorong orangtua mendidik anaknya di rumah. Karena, seringkali sekolah formal berorientasi pada nilai rapor (kepentingan sekolah), bukannya mengedepankan keterampilan hidup dan bersosial (nilai-nilai iman dan moral). Padahal sekarang ini, disekolah banyak sekali kasus murid mengejar nilai rapor dengan mencontek atau membeli ijasah palsu. Selain itu, perhatian secara personal pada anak kurang diperhatikan. Ditambah lagi, identitas anak biasanya ditentukan oleh keadaan yang lebih pintar, lebih unggul atau lebih cerdas. Keadaan demikian menambah suasana sekolah menjadi tidak menyenangkan.

Ketidakpuasan tersebut semakin memicu orangtua untuk memilih mendidik anak-anaknya di rumah, dengan resiko menyediakan banyak waktu dan tenaga. Home schooling menjadi tempat harapan orangtua untuk meningkatkan mutu pendidikan anak-anak, mengembangkan nilai-nilai iman atau agama dan moral serta mendapatkan suasana belajar yang menyenangkan.

Rumah merupakan lingkungan terdekat anak dan tempat belajar yang paling baik buat anak. Di rumah anak bisa belajar selaras dengan keinginannya sendiri. Ia tak perlu duduk menunggu sampai bel berbunyi, tidak perlu harus bersaing dengan anak-anak lain, tidak perlu harus ketakutan menjawab salah di depan kelas, dan bisa langsung mendapatkan penghargaan atau pembetulan kalau membuat kesalahan. Disinilah peran ibu menjadi sangat penting, karena tugas utama ibu sebetulnya adalah pengatur rumah tangga dan pendidik anak. Di dalam rumah banyak sekali sarana-sarana yang bisa dipakai untuk pembelajaran anak. Anak dapat belajar banyak sekali konsep tentang benda, warna, bentuk dan sebagainya sembari ibu memasak di dapur.

Anak juga dapat mengenal ciptaan Allah melalui berbagai macam makhluk hidup yang ada di sekitar rumah, mendengarkan ibu membaca doa-doa, lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dan cerita para Nabi dan sahabat dalam suasana yang nyaman dan menyenangkan. Oleh sebab itu rumah merupakan lingkungan yang tepat dalam menyelenggarakan pendidikan untuk anak usia dini seperti yang dilakukan semasa pemerintahan Islam, bahwa pendidikan untuk anak-anak di bawah tujuh tahun dibimbing langsung oleh orangtuanya.


B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka makalah ini akan membahas :

1. Apa Pengertian Home Schooling?

2. Apakah landasan Hukum Pelaksanaan Home Schooling?

3. Bagaimana Model Home schooling Untuk Anak Usia Dini?

4. Bagaimana Contoh Kurikulum Metode Home schooling Untuk Pendidikan Anak Usia Dini?




C. Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk Mengetahui Pengertian Home Schooling.

2. Untuk Mengetahui landasan hukum pelaksanaan home schooling.

3. Untuk Mengetahui Model Home schooling Untuk Anak Usia Dini.

4. Untuk Mengetahui Contoh Kurikulum Metode Home schooling Untuk Pendidikan Anak Usia Dini.

BAB II

PEMBAHASAN


A. Pengertian Home schooling

Kembara    (2002:     16)     mengemukakan     pendapatnya     mengenai Home schooling sebagai berikut:

”Home schooling atau sekolah rumah adalah konsep pendidikan pilihan yang diselenggarakan oleh orang tua. Proses belajar mengajar diupayakan berlangsung dalam suasana kondusif dengan tujuan agar setiap potensi anak yang unik dapat berkembang secara maksimal”


Berbeda dengan Loy Kho (2008: 18) mengemukakan pendapatnya bahwa : “Home School bukan sekedar memindahkan institusi sekolah ke rumah.

Home schooling lebih merupakan proses perjalanan sebuah keluarga dalam mengarungi samudra kehidupan. Di dalam proses perjalanan tersebut terjadi pula proses belajar dan mengajar. Setiap anggota keluarga menjadi guru sekaligus murid”.


Home schooling adalah sebagai instruksi dan pembelajaran yang sebagian darinya adalah aktivitas terencana yang dilakukan di rumah di dalam keluarga dengan orang tua yang berperan sebagai guru atau supervisior dari aktivitas (Lines, 1995: 21). Menurut Sumardiono, Home schooling adalah model pendidikan dimana sebuah keluarga memilih untuk bertanggung jawab sendiri atas pendidikan anak-anaknya dan mendidik anaknya dengan menggunakan  rumah sebagai basis pendidikannya.

Pendapat lain menjelaskan Home schooling sebagai aktivitas yang dirancang agar anak didik merasa senang belajar, tidak terbebani sehingga dapat mencapai hasil belajar yang maksimal yang kesemuanya itu bertujuan untuk mengembangkan krativitas, kemampuan berfikir (Mulyadi, 2006: 38).

Dengan adanya beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa Home schooling adalah merupakan suatu aktivitas belajar yang dapat dilaksanakan di rumah maupun secara kolega dan secara komunitas yang dimana orang tua sangat berperan penting sebagai pengajar dari luar (tutor) yang dirancang sedemikian rupa agar anak merasa senang, nyaman, tidak merasa terbebani dalam belajar sehingga mendapat hasil belajar yang optimal yang kesemuanya itu bertujuan untuk mengembangkan kreativitas, bakat, minat, kemampuan berfikir dan mengembangkan kepribadian anak sesuai dengan ciri khas individual anak tersebut dan dengan tidak mengabaikan kebutuhan anak pada tahap perkembangannya.

a. Tujuan Home schooling

Setiap pembelajaran yang dilaksanakan harus memiliki tujuan yang tepat, sehingga mendapat hasil belajar yang maksimal. Begitu juga Home schooling yang memiliki beberapa tujuan, diantaranya (Suryadi, 2006: 13):

1) Menjamin penyelesaian pendidikan dasar dan menengah yang bermutu bagi peserta didik yang berasal dari keluarga yang menentukan pendidikan anaknya melalui Home schooling.

2) Menjamin pemenuhan kebutuhan belajar bagi semua manusia muda dan orang dewasa melalui akses yang adil pada program-program belajar dan kecakapan hidup.

3) Menghapus disparitas gender dalam pendidikan dasar dan menengah.

4) Melayani peserta didik yang memerlukan pendidikan akademik dan kecakapan hidup secara fleksibel untuk meningkatkan mutu kehidupannya.

Pendapat lain oleh Mulyadi, (2006: 40) yang juga menegaskan bahwa

Home schooling memiliki tujuan, antara lain:

1) Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, menyenangkan dan menantang bagi anak didik sesuai dengan kepribadian, gaya belajar, kekuatan dan keterbatasan yang dimilikinya.

2) Mempelajari materi pelajaran secara langsung dalam konteks kehidupan nyata sehingga lebih bermakna dan berguna dalam kehidupan anak didik.

3) Meningkatkan kreativitas, kemampuan berfikir, dan sikap serta mengembangkan kepribadian peserta didik.

4) Membina dan mengembangkan hubungan baik antara orang tua dan anak  didik sehingga tercipta keluarga yang harmonis.

5) Mengatasi keterbatasan, kelemahan, dan hambatan emosional anak didik sehingga anak didik tersebut berhasil belajar yang optimal

6) Mengembangkan bakat, potensi, dan kebiasaan-kebiasaan belajar anak didik secara alamiah

7) Mempersiapkan kemampuan peserta didik dalam aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap untuk melanjutkan studi pada jenjang yang lebih tinggi.

8) Membekali peserta didik dengan kemampuan memecahkan masalah lingkungan sesuai tingkat perkembangannya demi kelulusan hidupnya di masa depan.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan dari Home schooling adalah melayani peserta didik dalam penyelesaian pendidikan dengan menciptakan kondisi lingkungan belajar yang kondusif, dalam konteks kehidupan nyata, mengatasi keterbatasan, kelemahan, dan hambatan emosional yang dihadapi anak, serta mengembangkan bakat, potensi yang dimiliki dengan membekali anak untuk mampu memecahkan masalah lingkungannya.

b. Jenis-jenis Home schooling

Home schooling diklasifikasikan sesuai dengan tujuan, kondisi dan kebutuhan masing-masing orang tua atau keluarga. Jenis-jenis Home schooling adalah: 1) Home schooling tunggal; 2) Home schooling majemuk; 3) Home schooling komunitas (Suryadi 2006: 15-19).

1) Home schooling Tunggal

Home schooling tunggal adalah format sekolah rumah yang dilaksanakan oleh orang tua dalam satu keluarga tanpa bergabung dengan Home schooling lainnya. Ada beberapa kelebihan penerapan Home schooling tunggal, diantaranya:

a) Adanya kebutuhan-kebutuhan khusus yang ingin dicapai keluarga Home schooling tunggal yang tidak dapat diketahui atau dikompromikan dengan keluarga Home schooling lainnya; b) Lokasi atau tempat tinggal yang tidak memungkinkan hubungan dengan Home schooling lainnya; c) Memiliki fleksibilitas tinggi, tempat, bentuk, dan waktu belajar bisa disepakati oleh pengajar dan peserta didik.

Selain beberapa kelebihan-kelebihan yang telah disebutkan di atas, ada beberapa kelemahan dalam Home schooling tunggal, diantaranya: a) Tidak ada tempat untuk bersosialisasi, terutama bagi anak yang memerlukan tempat untuk unjuk aksi sebagai syarat pendewasaan kepribadian anak; b) Orang tua harus menyelenggarakan sendiri penilaian terhadap hasil pendidikan atau mengusahakan sendiri kesetaraaan dengan standar pendidikan yang di tetapkan oleh Home schooling komunitas yang ada.

Pendapat tersebut didukung oleh Kembara (2007: 29) yang mengatakan bahwa kelemahan yang dimiliki Home schooling tunggal yaitu tidak adanya mitra (partner) untuk saling mendukung, berbagi atau membandingkan keberhasilan dalam proses belajar.

Sebagaimana yang telah diterapkan oleh beberapa selebritis muda, mereka cenderung mengambil tipe Home schooling tunggal karena kesibukan mereka yang luar biasa. Mereka menyewa seorang guru yang datang ke rumah beberapa kali dalam seminggu atau yang bersangkutan datang ke lokasi dimana selebritis beraktivitas, misalnya di tempat syuting (Kembara, 2007: 31). Dengan demikian, jelaslah bahwa Home schooling tunggal sengaja diterapkan oleh orang tua dengan tidak bergabung dengan Home schooling lainnya serta dalam penerapan proses belajar mengajar, waktu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan anak.

2) Home schooling Majemuk

Home schooling majemuk adalah format sekolah rumah yang dilaksanakan oleh orang tua dari dua atau lebih keluarga untuk kegiatan tertentu. Sementara, kegiatan inti atau pokok tetap dilaksanakan oleh orang tua masing-masing. Kebutuhan penerapan Home schooling majemuk adalah adanya kebutuhan- kebutuhan yang sama yang dapat dikompromikan oleh beberapa keluarga dalam kegiatan bersama, contohnya: kurikulim dari konsorium, asosiasi, organisasi, lokal, nasional atau internasional dengan bahasa tertentu, kegiatan olah raga tertentu (misalnya, keluarga atlet tenis) yang menuntut jadwal kegiatan belajar disiplin tertentu, mendalami salah satu keahlian musik atau seni tertentu dan kegiatan agama tertentu.

Selain ada beberapa kegiatan yang telah disebutkan di atas, terdapat beberapa kelemahan dalam penerapan Home schooling majemuk, diantaranya adalah perlu adanya kompromi dan fleksibilitas untuk menyesuaikan jadwal, suasana dan fasilitas tertentu yang dapat menampung beberapa anak dalam jumlah keluarga pada saat kegiatan dilaksanakan, serta harus mendapatkan pengawasan dan bimbingan atau dilatih oleh seorang ahli dalam bidang tertentu, sehingga anak diharuskan menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan orang tua harus mengusahakan sendiri kesetaraan dengan standar yang ditetapkan oleh komunitas Home schooling.

Ada beberapa kelemahan penerapan Home schooling majemuk, salah satunya adalah keharusan untuk melakukan kompromi dengan peserta lain dalam hal jadwal, suasana, fasilitas dan pilihan kegiatan. Hal ini dikarenakan setiap orang tua memiliki kesibukan dan agenda yang berbeda, sehingga waktu pendampingan anak-anak harus disesuaikan secara optimal (Kembara, 2007: 32).

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Home schooling majemuk adalah gabungan dua atau lebih homeschooler yang sama-sama mengkompromikan kegiatan belajar untuk anak-anaknya yang sesuai dengan kebutuhan, kegiatan dan kepentingan yang bisa dilakukan bersama-sama dengan homeschooler lainnya. Sementara itu, kegiatan inti atau pokok tetap dilaksanakan oleh orang tua masing-masing.

3) Home schooling komunitas

Home schooling komunitas merupakan gabungan beberapa Home schooling majemuk yang menyusun dan menentukan silabus, serta bahan ajar bagi anak- anak Home schooling, termasuk menentukan beberapa aktivitas dasar (olahraga musik atau seni dan bahasa) serta fasilitas tempat belajar mengajar dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu.

Ada beberapa kelebihan penerapan Home schooling komunitas, diantaranya adalah: a). Adanya kebutuhan-kebutuhan yang sama dengan homeschooler lainnya, seperti: pengembangan akhlak, pengembangan intelegensi, dan keterampilan; b). Adanya fasilitas belajar mengajar yang lebih baik, seperti bengkel kerja, laboratorium alam, perpustakaan, laboratorium IPA/bahasa, auditorium, fasilitas olahraga dan kesenian.

Home schooling komunitas memiliki konsep yang lebih terstruktur dan lengkap untuk pendidikan akademik, pembangunan akhlak mulia, pencapaian hasil belajar dan ruang gerak sosialisasi peserta didik lebih luas (Kembara, 2007: 32).

Selain kelebihan di atas ada juga kelemahan penerapan Home schooling komunitas, diantaranya: a). Orang tua harus melakukan kompromi untuk menyesuaikan jadwal, suasana dan fasilitas tertentu yang dapat menampung beberapa anak dari beberapa keluarga pada saat kegiatan dilaksanakan bersama- sama; b). Harus mendapatkan pengawasan professional; c). Anak-anak dengan kegiatan khusus harus mampu menyesuaikan dengan lingkungannya dan mau menerima perbedaan-perbedaan yang ada.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Home schooling komunitas adalah merupakan gabungan dari beberapa Home schooling majemuk yang bersama-sama dirancang dan didiskusikan untuk kegiatan belajar untuk anak- anaknya sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan yang bisa dilakukan bersama- sama yang dilaksanakan pada waktu tertentu.

Berdasarkan penjelasan mengenai jenis Home schooling di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ada tiga jenis Home schooling yaitu Home schooling tunggal yang penerapan pelaksanaannya dilakukan oleh satu keluarga dengan tidak tergabung dengan keluarga lain, Home schooling majemuk yang penerapannya merupakan penggabungan dari beberapa homeschooler, dan Home schooling komunitas adalah penggabungan dari beberapa Home schooling majemuk yang penerapannya dilaksanakan pada waktu tertentu.

c. Metode Home schooling

Dalam proses mengajar tidak hanya sekedar menerangkan dan menyampaikan sejumlah materi pelajaran kepada peserta didik, namun pengajar hendaknya memberikan dorongan agar terjadi proses belajar pada diri anak. Oleh sebab itu, setiap pengajar perlu menguasai berbagai metode mengajar dan dapat mengelola situasi dan kondisi dengan baik sehingga mampu menciptakan suasana belajar kondusif.

Begitu juga dalam penerapan Home schooling, Saputra (2007: 139-142)   menyebutkan bahwa ada beberapa metode Home schooling yang dapat diterapkan mulai dari yang sangat terstruktur (sekolah) sampai dengan yang tidak terstruktur. Akan tetapi homeschooler tidak perlu berpatokan pada satu metode saja, dengan kata lain homeschooler boleh menggunakan berbagai macam metode yang mungkin dapat dikerjakan. Adapun metode-metode Home schooling sebagai berikut: metode homeschool Charlotte Mason, metode Home schooling klasikal, metode Home schooling elektik, metode homeschool Montessori, metode unschooling, metode unit studies, serta metode homeschool Waldof.

1) Metode Homeschool Charlotte Mason

Charlotte Mason mengajukan filosofi pendidikannya yang meliputi “Naration, Copywork, Nature Notebook, Fine Arts, Languanges, Literature-based curriculum” dan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Model Home schooling ini adalah konsep “buku hidup” yang berbeda dengan text book yang ditulis oleh beberapa penulis mengenai satu objek tertentu. Buku ini bercerita dan tidak hanya menyampaikan fakta. Anak biasanya akan lebih ingat bila mereka membaca cerita  daripada membaca textbook.

Dalam metode Charlotte Mason, anak membaca buku kemudian menceritakannya kembali dengan bahasanya sendiri. Hal ini memastikan bahwa mereka mengerti apa yang dibacanya. Metode ini juga menekankan ‘nature notebook’ orang tua dan perlunya anak untuk keluar rumah melakukan pengamatan dan mencatatnya dalam buku, bila perlu dengan gambar.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa metode Charlotte Mason menggunakan konsep buku hidup yang artinya lebih menekankan pada aplikasi konkrit dalam kehidupan sehari-hari dengan langsung mempraktikkan literatur yang digunakan dalam belajar, sehingga anak betul-betul mendalami apa yang dipelajarinya dan adanya keterlibatan langsung dari orang tua dalam membimbing dan memfasilitasi belajar anak.

2) Metode Home schooling Klasikal

Model ini padat literature (bukan padat gambar) dan berdasar trivium grammer, logic dan rhetoric yang sebanding dengan konsep yang lebih mudah yaitu pengetahuan, pengertian dan kebijakan.

1) Tahap ‘grammer’ (sampai usia 12) adalah saat anak menerima dan mengumpulkan informasi pengetahuan. Anak menerima fakta tersebut.

2) Tahapan ‘logic’ (usia 13-15) adalah saat pemahaman anak mulai matang.

Mereka mulai mengerti sebab akibat. Pengetahuan membawa logika.

3) Tahapan ‘rhetoric’ (usia 16-18) adalah saat anak bisa menggunakan pengetahuan dan logika untuk berkomunikasi menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari, berdiskusi dengan berdebat kebijakan.

Setiap mata pelajaran yang dipelajari mempunyai tiga tahapan tersebut dengan memberikan fakta, membantu anak untuk mengerti, dan menguji anak dalam pemahamannya.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa metode homeschool klasikal menggunakan tiga konsep, yaitu tahapan pengetahuan (tahapan grammer), tahapan pengertian (tahapan logic) dan tahapan kebijakan (tahapan rhetoric) yang dalam penerapannya menggunakan klasifikasi sesuai dengan batasan umur.

3) Metode Elektik

Metode elektik lebih memberikan kesempatan kepada keluarga untuk mendesain sendiri program Home schooling yang sesuai dengan memilih atau menggabungkan bebebrapa sistem yang ada dan dapat menggunakan sumber- sumber informasi dari internet atau perpustakaan.

Jadi metode elektik adalah metode yang tidak hanya memberikan standar kurikulum yang digunakan, akan tetapi memberikan kebebasan kepada orang tua untuk memilih atau menggunakan kurikulum yang diinginkan serta bebas mencari informasi dari berbagai media.


4) Metode Home schooling Montessori

Maria Motessori menyatakan bahwa anak mempunyai kemamampuan untuk belajar. Orang dewasa hanya berperan mengatur lingkungan anak dan mendukung proses belajar. Dalam hal ini orang dewasa tidak mengatur anak, tetapi membantu anak belajar dengan lingkungannya dalam situasi natural, dalam kelompok yang tidak dibatasi oleh umur.

Maria Montessori juga mengatakan bahwa pendekatan ini mendorong penyiapan lingkungan pendukung yang nyata dan alami, mengamati proses interaksi anak-anak di lingkungan, serta terus menumbuhkan lingkungan sehingga anak-anak dapat mengembangkan potensinya, baik secara fisik, mental, maupun spiritual.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa metode Montessori lebih menekankan pada kemandirian anak dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya dengan mendukung dan memfasilitasi lingkungan belajar anak serta orang tua berperan sebagai pembimbing bukan sebagai pengatur.

5) Metode Unschooling

Anak belajar materi apa yang dia sukai. Sangat tidak terstruktur tapi sering cocok untuk sebagian anak, terutama anak kecil.

Unschooling juga berangkat dari keyakinan bahwa anak memiliki keyakinan untuk natural dan jika keinginan itu difasilitasi dan dikenalkan dengan pengalaman di dunia nyata, maka mereka akan belajar lebih banyak dari pada melalui metode lainnya. Unschooling tidak berangkat dari textbook, tetapi dari minat anak yang difasilitasi.

Jadi metode unschooling adalah merupakan metode yang tidak terstruktur yang lebih menekankan pada minat anak dan peran orang tua sangat penting untuk menyiapkan fasilitas belajar dan mengenalkan anak pada dunia nyata.




6) Metode Unit Studies

Semua mata pelajaran terpadu menjadi satu tema. Sebagai contoh, membaca buku Little House on the Prairie dan belajar sejarah, seni, ilmu pengetahuan alam, matematika, dan lain-lain melalui buku tersebut.

Jadi metode unit studies adalah mengintegrasi beberapa mata pelajaran melalui satu tema.

7) Metode Home schooling Waldorf

Konsep pembelajaran Waldorf bertumpu pada anak secara keseluruhan (the whole child) yang meliputi kepala, hati dan tangan. Metode ini bukan sistem pedagogi melainkan sebuah seni, sehingga apa yang sudah ada pada manusia dapat dibangkitkan. Pendidikan Waldorf bukan untuk mendidik melainkan untuk membangkitkan.

Dalam metode ini, guru atau tutor tidak berusaha untuk menanamkan materi intelektual kepada anak. Tetapi membangkitkan kemampuan anak untuk mencari pengetahuan serta menikmati proses belajar.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa metode Home schooling Waldorf lebih menekankan pada peningkatan motivasi anak dan penerapannya disesuaikan dengan keadaan rumah.

Jadi dapat disimpulkan bahwa metode Home schooling meliputi: metode homeschool Charlotte Mason yang dalam penerapannya lebih kepada aplikasi konkrit dalam kehidupan sehari-hari, metode homeschool classic yang menggunakan tiga konsep dan pengklasifikasiannya sesuai dengan batasan usia, metode elektik yang menekankan pada kebebasan dalam memilih kurikulum yang digunakan dan menggunakan berbagai macam sumber informasi, metode homeschool Montessori yang lebih menekankan pada kemandirian anak dalam berkreativitas, metode unschooling yang lebih menekankan pada minat anak dalam belajar; metode unit studies yang mengintegrasikan suatu tema tetapi terdiri dari beberapa materi, dan metode homeschool waldorf yang lebih menekankan pada peningkatan motivasi belajar anak.


B. Landasan Hukum Pelaksanaan Home Schooling

Dalam peraturan dan landasan Home Schooling, Amandemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 mengamanatkan pentingnya pendidikan nasional. Antara lain yaitu pada kandungan pasal berikut :

1. Pasal 31, UUD 1945

Ayat (1) : Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan

Ayat (2)      : Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya

2. Pasal 4, UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

“Pendidikan diselenggarakan dengan prinsip-prinsip cara menyelenggarakan, bentuk penyelenggaraan, dan pelaksanaan tertentu.”

Pendidikan diselenggarakan secara demokratis, berkeadilan, tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi HAM, serta nilai-nilai keagamaan, cultural, dan kemajemukan. Bentuk penyelenggaraannya adalah berupa :

i. Satu kesatuan sistemik dengan system terbuka dan multi-makna; dan

ii. Dalam system terbuka yang memberikan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program lintas satua dan jalur pendidikan (multi entry – multi exit system). Pendidikan multi makna berorientasi pada pembudayaan, pemberdayaan, pembentukan watak dan kepribadian, dan berbagai kecakapan hidup.

3. Pasal 5, UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

a. Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu

b. Warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus.

c. Warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus.

d. Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus.

4. Pasal 27, UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Ayat (1)

“Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.”

Ayat (2)

Sekolah rumah pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :

Sekolah rumah tunggal merupakan layanan pendidikan yang dilakukan oleh orang tua/wali terhadap seorang anak atau lebih terutama di rumahnya sendiri atau di tempat-tempat lain yang menyenangkan bagi peserta didik.

Sekolah rumah majemuk merupakan layanan pendidikan yang dilakukan oleh para orang tua/wali terhadap anak-anak dari suatu lingkungan yang tidak selalu bertalian dalam keluarga, yang diselenggarakan di beberapa rumah atau di tempat/fasilitas pendidikan yang ditentukan oleh suatu komunitas pendidikan yang dibentuk atau dikelola secara lebih teratur dan terstruktur.


C. Model Home schooling Untuk Anak Usia Dini

Model pembelajaran di sekolah yang ada saat ini seperti menghafal atau memasukkan informasi, dikhawatirkan tidak dapat mengembangkan potensi anak. Informasi yang dipelajari di sekolah itu dapat segera usang dan kehilangan relevansinya dengan dunia nyata. Mungkin, sudah saatnya orang tua mengajarkan kepada anak-anak untuk belajar mencari informasi yang dibutuhkannya (learn how to learn). Para guru dan orang tua perlu menyadari bahwa mereka bukan satu-satunya sumber pengetahuan dan informasi buat anak-anak. 

Secara sadar, model pembelajaran yang harus dibangun adalah membangkitkan keingintahuan (curiosity). Keterampilan bertanya dan mencari tahu adalah sebuah modal berharga yang perlu ditumbuhkan terus menerus selama perkembangan anak-anak. Alih-alih berpretensi sebagai orang tua (atau guru) super yang mampu menjawab semua pertanyaan, kita mengenalkan sumber-sumber informasi yang dapat membantu mereka menemukan jawaban atas pertanyaannya.

Model pengajaran menghafal dan memberikan isi tanpa melibatkan keingintahuan anak sudah semakin usang dan tidak memadai. Model semacam ini justru dapat mematikan keingintahuan anak, sebuah modal yang sangat berharga untuk masa depan dan kelangsungan hidupnya.

Keluarga yang menerapkan Home schooling harus bisa melihat bahwa Home schooling memiliki peluang yang besar untuk mengajarkan kebiasaan mencari informasi secara mandiri (learn how to learn). Para orang tua Home schooling perlu memfokuskan arah pendidikan anak-anaknya pada keterampilan mencari informasi.

Mengajarkan anak-anak untuk mencari informasi yang mereka butuhkan adalah kekhawatiran yang seringkali muncul mengenai kemampuan orang tua Home schooling untuk mengajar anak-anaknya. Orang tua Home schooling bukanlah guru (pengajar) untuk seluruh materi pengajaran bagi anak-anaknya. Orang tua Home schooling lebih merupakan mentor yang membantu anak menunjukkan peta jalan (road map) masa depannya.

Pada dasarnya Home schooling bersifat unique. Karena setiap keluarga mempunyai nilai dan latar belakang berbeda, setiap keluarga akan melahirkan pilihan-pilihan model Home schooling yang unique. Banyak metoda pendidikan yang dapat diterapkan untuk Home schooling. Pilihlah yang sesuai dengan gaya anak belajar. 

Metode Home schooling sangat beragam, mulai yang sangat tidak terstruktur (unschooling) hingga yang sangat terstruktur (school at-home). Unschooling adalah membiarkan anak-anak belajar apa saja sesuai minatnya dan orang tua tinggal memfasilitasinya. Sedangkan school at-home adalah model belajar seperti sekolah reguler, dengan menggunakan buku pegangan seperti sekolah, hanya saja belajarnya di rumah. 

Diantara dua metode itu ada banyak sekali metode belajar yang dapat diterapkan dalam Home schooling, misalnya metode belajar Montessori yang mendorong orang tua terus menumbuh-kembangkan keadaan lingkungan sehingga dapat mengembangkan potensinya, baik secara fisik, mental, maupun spiritual. Metode unit study yang mempelajari banyak mata pelajaran sekaligus dalam satu tema sehingga antara tiap-tiap mata pelajaran terdapat hubungan yang saling berkaitan. Metode living books yang mengajarkan suatu hal berdasarkan dunia nyata. Dan masih ada beberapa metode belajar dalam penerapan Home schooling lainnya, seperti metode klasik, waldorf, dan eclectic

Dari metode-metode tersebut, pada dasarnya adalah mengajak anak untuk berinteraksi antara ilmu pengetahuan dengan dunia nyata dan penerapannya. Metode-metode di atas akan lebih baik lagi apabila dalam penerapannya anak di ajak berinteraksi dalam kehidupan social dengan membentuk sebuah grup.

Menjadi guru bagi anak-anak usia dini, tidaklah berarti  mendidik anak secara individual, namun dapat dilakukan secara berkelompok dengan melibatkan para orangtua yang ada di sekitar lingkungannya. Sistem kelompok belajar dalam bentuk grup, selain menumbuhkan kebersamaan dan melatih anak dalam bersosialisasi juga menyuburkan persaudaraan dan kedekatan diantara orangtua sehingga memudahkan memberikan penyelesaian terhadap permasalahan-permasalahan yang muncul dari anak-anak tersebut. Dengan demikian anak-anak usia dini mendapatkan pelajaran dalam bentuk kelompok dan akan melanjutkan pelajaran mereka di rumah bersama ibunya masing-masing.

Di dalam sistem pendidikan Indonesia, keberadaan Home schooling adalah legal. Keberadaan Home schooling memiliki dasar hukum yang jelas di dalam UUD 1945 maupun di dalam UU No. 20/2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional. Sekolah disebut jalur pendidikan formal, Home schooling disebut jalur pendidikan informal. Siswa Home schooling dapat memiliki ijazah sebagaimana siswa sekolah dan dapat melanjutkan sekolah ke Perguruan Tinggi manapun jika menghendakinya. 

Banyak alasan orang tua memilih Home schooling. Secara general, alasan utama orang memilih Home schooling adalah tidak puas dengan model sekolah umum dan ingin memberikan pendidikan yang berkualitas kepada anak. Selain itu, ada yang melakukan Home schooling karena ada kebutuhan khusus pada anak; misalnya autis, anak-fokus, berbakat, dan sebagainya.

 Untuk alasan yang seperti demikian, sebelum memulai metode Home schooling sebagai pendidikan pada anak usia dini, ada baiknya kita mengetahui kondisi yang mempengaruhi anak usia dini, memahami karakteristik anak usia dini dan mengetahui kelebihan dan kekurangan dari metode Home schooling.

Kondisi Yang Mempengaruhi Anak Usia Dini

Faktor Bawaan : faktor yang diturunkan dari kedua orang tuanya, baik bersifat fisik maupun psikis.

Faktor Lingkungan :

1) Lingkungan dalam kandungan 

2) Lingkungan di luar kandungan : lingkungan keluarga, masyarakat, sekolah dan lain-lain.

 

Memahami Karakteristik Anak Usia Dini

1) Mengetahui hal-hal yangbermanfaat bagi perkembangan anak. 

2) Mengetahui tugas-tugas perkembangan anak, sehingga dapat memberikan stimulasi kepada anak. 

3) Mengetahui bagaimana membimbing proses belajar anak pada saat yang tepat sesuai dengan kebutuhannya. 

4) Menaruh harapan dan tuntutan terhadap anak secara realistis. 

5) Mampu mengembangkan potensi anak secara optimal sesuai dengan keadaan dan kemampuannya.

Kelebihan Home schooling:

1) Customized, sesuai kebutuhan anak dan kondisi keluarga.

2) Lebih memberikan peluang untuk kemandirian dan kreativitas individual.

3) Memaksimalkan potensi anak sejak usia dini, tanpa harus mengikuti standar waktu yang ditetapkan di sekolah.

4) Lebih siap untuk terjun di dunia nyata.

5) Kesesuaian pertumbuhan nilai-nilai anak dengan keluarga. Relatif terlindung dari nilai dan pergaulan yang menyimpang (drug, tawuran, dll).

6) Kemampuan bergaul dengan orang yang berbeda umur (vertical socialization).

7) Biaya pendidikan dapat menyesuaikan dengan keadaan orang tua.

Kekurangan Home schooling:

1) Butuh komitmen dan keterlibatan tinggi dari orang tua

2) Sosialisasi seumur (peer-group socialization) relatif rendah.

3) Ada resiko kurangnya kemampuan bekerja dalam tim (team work), organisasi, dan kepemimpinan.

4) Perlindungan orang tua dapat memberikan efek samping ketidakmampuan menyelesaikan situasi sosial dan masalah yang kompleks yang tidak terprediksi.

Home schooling adalah sebuah proses yang dapat dilakukan oleh orang tua manapun yang mencintai dan berdedikasi pada puteri-puterinya. Apapun latar belakang pendidikan atau pekerjaan orang tua, tidak menghalangi orang tua untuk melakukan Home schooling. Yang diperlukan adalah komitmen, kesediaan belajar, dan bekerja keras. Home schooling memang bukan sebuah hal yang mudah, tetapi Home schooling dapat dijalankan karena sudah jutaan orang tua yang mempraktekkannya. 

Proses pendidikan pada anak usia dini adalah sebuah pengalaman yang menarik bagi seluruh anggota keluarga. Di dalam proses Home schooling, kita dapat terus belajar, membuka diri, dan maju bersama perkembangan anak-anak. Dengan segala dinamika yang terjadi pada anak-anak dan proses yang dialami bersama selama Home schooling, mungkin sikap bijaksana sebagai orang tua adalah mencari keseimbangan antara keteguhan keyakinan (determination) dan keterbukaan (open mindedness) di dalam menjalankan Home schooling bagi anak-anak.


D. Contoh Kurikulum Metode Home schooling Untuk Pendidikan Anak Usia Dini

1) Bahan Ajar

Untuk anak usia dini, sebaiknya bahan ajar yang digunakan sebisa mungkin bisa menarik perhatian sang anak. Salah satu contoh yang bisa digunakan adalah flash card. Flash card di print dalam satu kertas kecil bolak-balik. Halaman depan berisi gambar, halaman belakang berisi tulisan dan gambar. Metode yang dipakai bisa dengan bermain tebak-tebakan. Berikut ini bisa dilihat contoh dari flash card.

                        

Beberapa contoh flash card

Contoh lain untuk bahan ajar dalam penerapan metode Home schooling untuk anak usia dini ialah unit study. Biasanya digunakan di Taman Kanak Kanak. Sasaran pengajaran dari unit study ini adalah anak dapat mengembangkan keingintahuan. Kita akan mengambil contoh pesawat sebagai unit study. Anak dapat mengenali pesawat, mengetahui hubungan antara benda ciptaan manusia (pesawat) dan benda di alam (burung), serta menghubungkan pesawat dengan pengalaman sehari-hari.

   

  

Contoh unit study pesawat

2) Kalender Aktifitas

Selain itu, orangtua juga sebaiknya menyiapkan kalender aktivitas perkembangan anak. Bagusnya selain orangtua yang mencatat perkembangan anak dari hari ke hari, sejak dini anak-anak juga bisa mulai belajar me-manage sendiri kegiatannya. Tentu saja dibantu oleh orangtua dengan cara yang menyenangkan.









Contoh kalender aktifitas yang dibuat semenarik mungkin.

3) Cek List Kompetensi

Orangtua juga bisa membuat parameter perkembangan anak untuk mengecek kompetensi yang telah diajarkan. Misalnya untuk anak berumur 2-3 tahun seperti pada daftar berikut.

Contoh Kegiatan Tanggal Observasi

1. Membuka dan menutup pintu ______________

2. Berlari dengan baik ______________

3. Senang memanjat ______________

4. Menuruni anak tangga satu demi satu dengan kaki yang sama secara perlahan ______________

5. Menumpuk benda lebih tinggi (6 benda atau lebih) ______________

6. Menggunakan pensil warna untuk membuat tulisan ______________

7. Dapat melipat kertas bila dicontohkan terlebih dahulu ______________

8. Mencoba memakai dan mencopot baju sendiri ______________

9. Menggunakan dua kata atau lebih ketika berbicara ______________

10. Mulai senang mendengarkan cerita bergambar ______________

11. Melompat dari tempat tinggi ke tempat yang rendah ______________

12. Ikut aktif dalam permainan ______________

13. Ikut membereskan mainan ______________

14. Hapal nama lengkapnya ______________

15. Tahu jenis kelaminnya ______________

16. Tahu berapa umurnya ______________

17. Meniru tingkah laku dan suara ______________

18. Berdiri seimbang di atas satu kaki untuk beberapa saat ______________

19. Mengerti konsep sederhana (misalnya atas/bawah, panas/dingin, kecil/besar, buka/tutup) ______________

20. Terlibat dalam permainan yang membutuhkan konsentrasi  (memilah/memasangkan) ______________

Nilai:

1. Jika ada 10 atau kurang aktivitas yang mampu dilakukan, perkembangan terlambat.

2. Jika ada 10 sampai 15 aktivitas yang mampu dilakukan, perkembangan agak terlambat.

3. Jika ada 16 sampai 20 aktivitas yang mampu dilakukan, perkembangan memuaskan.

Selanjutnya dapat dibuat contoh lain mengenai parameter untuk anak berusia 1-2 tahun, 3-4 tahun, 4-5 tahun dan parameter kompetensi TK.




BAB III

PENUTUP


A. Kesimpulan

Pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan yang sangat mendasar dan strategis dalam pembangunan sumber daya manusia karena menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik, kecerdasan, social emosional, serta bahasa komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini. Oleh karena itu, pendidikan anak usia dini sangat diperlukan dan akan mencapai keberhasilan apabila dengan dibantu oleh orang tua.

Metode Home schooling bisa menjadi alternative untuk pendidikan anak usia dini. Selain penerapannya di lingkungan rumah sehingga anak dapat langsung berinteraksi dan menerapkan pengetahuannya di dunia nyata, anak juga bisa langsung mendapat pembetulan saat membuat kesalahan. Jadi, untuk dapat menjalankan metode Home schooling orang tua harus bisa meluangkan waktu untuk putra-putrinya serta bersikap kreatif agar mampu memancing rasa keingintahuan anak.


B. Saran

Hendaknya setiap orang tua harus selalu bisa mengawasi, membimbing, dan meluangkan waktu untuk anak-anaknya agar potensi yang terdapat dalam diri anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Dan orangtua juga harus bersikap kreatif agar dapat memotivasi anak untuk mengetahui segala sesuatu hal.

Oleh karena itu, marilah kita semua sebagai orang dewasa bisa berperan aktif dalam proses tumbuh-kembang anak usia dini, mengingat pendidikan anak usia dini sangat mendasar dan berpengaruh terhadap pembangunan sumber daya manusia kelak serta masa depan anak.








 

DAFTAR PUSTAKA



Ali, M & Asrori, M. 2005. Psikologi remaja. Jakarta: P.T Bumi aksara

Arifin, Anwar. 2003. Memahami Paradigma Baru Pendidikan Nasional Dalam Undang-Undang Sisdiknas, Jakarta: Departemen Agama RI.

Arikunto, Suharsimi, 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Edisi Revisi VI, Cet. Ketigabelas, Jakarta: Rineka Cipta.

Bimo Walgito. 2005. Bimbingan dan Konseling (Studi dan Karir). Yogyakarta: Andi Offset

Charles, Manz. 2007. Manajemen Emosi. Jogjakarta: Diva Press Group

DEPAG RI. 2005. Pendidikan Islam Pendidikan Nasional (Paradigma Baru), Jakarta: DEPAG RI

Djumransjah, M. 2006. Filsafat pendidikan. Malang: Bayutmedia Publishing.

Drey, C. Edward. 2006. Ketika anak sulit diatur : panduan orangtua mengubah masalah perilaku anak. Bandung : PT. Mizan Pustaka

Fuad, Fidinan. 2005. Menjadi orang tua bijaksana. Kiat-kiat Praktis Membina Relasi Harmonis Dalam Keluarga supaya Keluarga Anda Penuh susasana Kerjasama Dan Jauh Dari Suasana konflik dan Stress. Yogyakarta: Tugu Publisher.

Garungan, 2004. Psikologi Sosial. Bandung: PT Rafika Aditama

Harsono, Hanifah. 2002. Implementasi Kebijakan dan Politik. Yogyakarta: Rinheka Karsa

Hasbullah, (2005), Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Indriantoro, Nur, dan Bambang Supomo, 2002. Metodologi Penelitian Bisnis Untuk Akuntansi dan Manajemen, Edisi Pertama, Cetakan Pertama, Yogyakarta: Penerbit UPFE.

Jogiyanto, 2004. Metode Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman- Pengalaman, Cetakan Pertama, Yogyakarta: BPFE.

Jasmine, Juliana. 2007. Mengajar Berbasis Multiple Intelligences, Bandung: Nuansa

Kembara, Maulia.D. 2007. Panduan lengkap Home schooling. Bandung: PT Syaamil Cipta Media

Moleong, Lexy. J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif, Edisi Revisi, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Mulyadi, Seto. 2006. Perkembangan Home schooling di Indonesia. Makalah Seminar Jakarta

Parker, D.K. 2006. Menumbuhkan Kemandirian dan Harga Diri Anak. Terjemahan Bambang Wibisono. Jakarta : Anak Prestasi Pustaka.

Poewadarminto. 1990. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka. 

Riyanto, dkk., 2004. Pendidikan Pada Usia Dini. Jakarta : Grasindo.

Saputra, Abe. A. 2007. Rumahku Sekolahku. Panduan Bagi Orang Tua Untuk Menciptakan Home schooling: Yogyakarta: Graha Pustaka

Sarwono, Sarlito Wirawan. 2000. Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali Press. 

Setiawan, Guntur. 2004. Implementasi Dalam Birokrasi Pembangunan. Jakarta: Cipta Dunia.

Sobur, Alex. 2003. Psikologi umum. Bandung: Pustaka Setia 

Sukmadinata, Nana.S. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sumardiono. 2007. Home schooling, Lompatan Cara Belajar, Jakarta: PT. Elex Media Komsputindo.

Sunarto, dkk., 2006. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta.

Suryadi. 2006. Kiat Jitu dalam Mendidik Anak: Berbagai Masalah Pendidikan dan Psikologi, Jakarta: Edsa Mahkota.

Syafrudin Nurdin, Basyiruddin Usman. 2004. Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum, Jakarta: Ciputat Press

Usman, Nurudin. 2002. Konteks Implementasi Berbasis Kurikulum. Bandung: Pustaka Buana